Showing posts with label Sleman. Show all posts
Showing posts with label Sleman. Show all posts

Monday, November 10, 2014

Monumen Jogja Kembali Wisata Edukatif Anak Dan Sejjarah Perjuangan Indonesia

Monumen Jogja Kembali Wisata Edukatif Anak


Sleman Monumen Jogja Kembali Wisata Edukatif Anak Dan Sejjarah Perjuangan Indonesia - Sebuah cerita sejarah menarik yang akan kami sajikan kali ini yaitu mengenai sebuah monument kembalinya Yogyakarta yaitu Monumen Yogya Kembali. Monumen ini dibangun pada tanggal 29 Juni 1985, dengan Upacara Tradisional Penanaman Kepala Kerbau dan Peletakan Batu Pertama oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII.
Monument ini berada di “Jl. Lingkar Utara, Yogyakarta 55581, Indonesia”. Monument ini terletak di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman. Monumen ini mempunyai arti yang menjadi perlambang kesuburan juga mempunyai makna melestarikan budaya nenek moyang pra sejarah. Peletakan bangunanpun mengikuti budaya Jogja, terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Parang Tritis.
Nama Monumen Yogya Kembali merupakan perlambang berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan sebagai tetengger sejarah ditarik mundurnya tentara Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan petinggi lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta.
Museum MONJALI merupakan museum khusus dalam kategori museum sejarah perjuangan bangsa Indonesia, kurun waktu perang kemerdekaan tahun 1945 –1949. Museum ini berada di lantai pertama dan menggunakan empat ruang masing-masing berukuran 146 m2. Adapun koleksi museum ini adalah benda-benda visual, audiovisual, korporil, replika dan bagan-bagan struktur organisasi yang tata pamerannya disusun kronologis tematis, kronologis tipelogis sesuai alur sejarah perjuangan bangsa Indonesia selama perang kemerdekaan dengan maksud untuk memudahkan memahami perjalanan sejarah dimasa revolusi phisik. Dalam penyajiannya dilengkapi dengan sarana tata pameran berupa panil di dinding, schutsel, boxsistim dan vitrin (tengah, sudut dan dinding).

Monumen ini menjadi slah satu obyek wisata menarik bagi seluruh kalangan namun sangat baik bagi para pelajar yang masih belajar tentang sejarah Indonesia. Monumen ini dibuka setiap hari Selasa – Minggu pada jam 08.00- 16.00 WIB tetapi pada masa liburan sekolah monumen ini juga buka pada hari Senin dari jam 08.00- 14.00 WIB. Dengan biaya masuk Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 7.500 untuk wisatawan asing tempat ini layak untuk dijadikan tempat kunjungan wisata anda bersama keluarga.

Cagar Budaya Candi Gebang Sleman Yogyakarta Yang Terawat Rapi Dan Indah

Cagar Budaya Candi Gebang Sleman Yogyakarta


Sleman Cagar Budaya Candi Gebang Sleman Yogyakarta Yang Terawat Rapi Dan Indah - Kali ini penulis akan membagi cerita dari sebuah Candi peninggalan zaman Mataram kuno yaitu Candi Gebang Sleman. Candi Gebang adalah candi Hindu yang terletak di dusun Gebang, kelurahan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, 11 Kilometer dari pusat kota Yogyakarta.
Setelah melalui proses yang panjang dan diteliti candi ini diperkirakan dibangun sekitar abad ke-8 M pada saat wangsa Sanjaya berkuasa di zaman Kerajaan Mataram Kuno. Candi Gebang yang ditemukan pada tahun 1936, kemudian dilakukan pemugaran yang dipimpin oleh Van Romondt pada tahun 1937-1939.

Candi ini berbahan dasar batu andesit yang mempunyai ukuran kira-kira 5,25 x 5,25 meter dengan tinggi 8 meter. Candi Gebang menghadap ke timur, mempunyai puncak berbentuk lingga. Pada relung sebelah barat arca Ganesa, sementara di sisi pintu terdapat dua relung yang salah satunya berisi Arca Nandiswara. Sebuah yoni berada di ruang candi.

Saturday, November 8, 2014

Sejarah Kabupaten Sleman Yogyakarta Yang Merupakan Bagian Kasultanan

Sejarah Kabupaten Sleman Yogyakarta


Sleman Sejarah Kabupaten Sleman Yogyakarta Yang Merupakan Bagian Kasultanan - Asal usul kabupaten Sleman yaitu tempat dimana Sayyid Sulaiman Mojo Agung bin Abdulwahhab Basyaiban berdakwah di wilayah Mataram. keturunan Sayyid Sulaiman ada yang menjadi Petinggi Kraton Yogyakarta yaitu Abdullah bin Ahmad Basyaiban (bergelar Temenggung Alap-alap Kartadipura,menantu Sri Sultan HB II yang kelak mendapat pengarahan dari Pangeran Diponegoro), ada yang menjadi Wedana Jakso dari keturunan Hasyim bin Ahmad Basyaiban (bergelar Raden Temenggung Wongsodirjo I yang makamnya di Gambir Sawit Umbulharjo Yogyakarta).
Keberadaan Kabupaten Sleman dapat dilacak pada Rijksblad no. 11 Tahun 1916 tanggal 15 Mei 1916 yang membagi wilayah Kasultanan Yogyakarta dalam 3 Kabupaten, yakni Kalasan, Bantul, dan Sulaiman (yang kemudian disebut Sleman), dengan seorang bupati sebagai kepala wilayahnya. Dalam Rijksblad tersebut juga disebutkan bahwa kabupaten Sulaiman terdiri dari 4 distrik yakni : Distrik Mlati (terdiri 5 onderdistrik dan 46 kalurahan), Distrik Klegoeng (terdiri 6 onderdistrik dan 52 kalurahan), Distrik Joemeneng (terdiri 6 onderdistrik dan 58 kalurahan), Distrik Godean (terdiri 8 onderdistrik dan 55 kalurahan). Berdasarkan Perda no.12 Tahun 1998, tanggal 15 Mei tahun 1916 akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Sleman. Menurut Almanak, hari tersebut tepat pada Hari Senin Kliwon, Tanggal 12 Rejeb Tahun Je 1846 Wuku Wayang.
Berdasar pada perhitungan tahun Masehi, Hari Jadi Kabupaten Sleman ditandai dengan surya sengkala "Rasa Manunggal Hanggatra Negara" yang memiliki sifat bilangan Rasa= 6, Manunggal=1, Hanggatra=9, Negara=1, sehingga terbaca tahun 1916. Sengkalan tersebut, walaupun melambangkan tahun, memiliki makna yang jelas bagi masyarakat Jawa, yakni dengan rasa persatuan membentuk negara. Sedangkan dari perhitungan tahun Jawa diperoleh candra sengkala "Anggana Catur Salira Tunggal". Anggana=6, Catur=4, Salira=8, Tunggal=1. Dengan demikian dari candra sengkala tersebut terbaca tahun 1846.
Beberapa tahun kemudian Kabupaten Sleman sempat diturunkan statusnya menjadi distrik di bawah wilayah Kabupaten Yogyakarta. Dan baru pada tanggal 8 April 1945, Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan penataan kembali wilayah Kasultanan Yogyakarta melalui Jogjakarta Koorei angka 2 (dua). Penataan ini menempatkan Sleman pada status semula, sebagai wilayah Kabupaten dengan Kanjeng Raden T umenggung Pringgodiningrat sebagai bupati. Pada masa itu, wilayah Sleman membawahi 17 Kapenewon/Kecamatan (Son) yang terdiri dari 258 Kalurahan (Ku). Ibu kota kabupaten berada di wilayah utara, yang saat ini dikenal sebagai desa Triharjo. Melalui Maklumat Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 tahun 1948 tentang perubahan daerah-daerah Kelurahan, maka 258 Kelurahan di Kabupaten Sleman saling menggabungkan diri hingga menjadi 86 kelurahan/desa. Kelurahan/Desa tersebut membawahi 1.212 padukuhan.
Bupati yang pernah memerintah hingga Bupati sampai sekarang :
KRT. Pringgodiningrat (1945-1947)
KRT. Projodiningrat (1947-1950)
KRT. Dipodiningrat (1950-1955)
KRT. Prawirodiningrat (1955-1959)
KRT. Murdodiningrat (1959-1974)
KRT. Tedjo Hadiningrat (1974 / 3 Bulan)
Drs. KRT. H. Prodjosuyoto Hadiningrat (1974-1985)
Drs. Samirin (1985-1990)
H. Arifin Ilyas (1990-2000)
Drs. Ibnu Subiyanto, Akt. (2000-2009)
Drs. H. Sri Purnomo, M.Si. (2009-2010/Plt Bupati)

Drs. H. Sri Purnomo, M.Si. (2010-2015)